Welcome to Ma Blog !!

Seorang anak manusia yang bercita-cita menjadi seorang komposer dan penulis, punya banyak keinginan, punya dua adik yang menjadi inspirator setelah kedua orangtua, inginkan ibunda tercinta ke tanah suci dan semoga bertemu ayah disana, sering menulis lagu dari inspirator lainnya, mengkomposisi musik dan menulis cerita, suka sepak bola,kegagalan selalu jadi teman terbaiknya dan suatu waktu akan menjadi musuh dalam hidupnya :) Selamat datang kawan :D

Kejutan yang mengejutkan


             
        Waktu yang terus berlalu, kejadian yang terekam dalam potret masa lalu, beribu keinginan terpacu jadi tujuan padu, impian yang selalu didambakan masih terpendam dalam lautan kalbu, seakan-akan menjadi misteri dan sorotan ilusi yang mengarahkannya pada suatu titik apakah kita harus berani menghadapi kehilangan ataupun takut dan terhimpit dalam kesedihan yang mendalam. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku akan sedikit bercerita tentang kehidupanku sendiri, dimana aku mau tidak mau  harus menjadi sosok pemimpin (sebaliknya aku hanyalah seorang pemimpi yang masih tertidur dalam selimut kekanak-kanakan) yang belum saatnya memulai tetapi aku juga tidak akan mengakhirinya begitu saja. Kami hidup layaknya seperti "keluarga cemara" yang terlihat tentram, damai, gembira walaupun terkadang ada saja sedikit ketidakserasian yang menjadi bumbu penyedap kami dalam mengarungi kehidupan juga menyajikan hitam dan putih serta pahit dan manisnya rasa dalam mencicipi indahnya kebersamaan. Memang benar apa kata orang:" bahagia itu sederhana, ada disaat kita bersama keluarga. Dikala kita jauh, kita tidak dapat merasakan hal yang sama dan dikala kita dekat, bandingkanlah dengan kebahagiaan manapun. Maka kau akan merasakan kebahagiaan yang seutuhnya bahagia". Baiklah, aku akan menceritakan secarik peristiwa yang membuatku berbeda dari biasanya.

            Suatu ketika aku sedang dirundung keraguan dengan masalah kuliah. Aku bertanya kepada kedua orang tuaku yang pada saat itu sedang berbicara asik dengan secangkir kopi dan teh yang biasa mereka hidangkan dan seringkali dilakukan pada teduhnya teras di sore hari. Satu persatu kata terlontar dan membentuknya menjadi kalimat padu yang menguatkan curhatku. Mereka pun menyimaknya dan mencoba memberikanku pelengkap yang sedap. Sejujurnya aku memang seorang pemalas yang sulit untuk mendengarkan kokokkan ayam apalagi melihat terbitnya matahari, itulah akar permasalahannya. Setelah semua kata selesai diucapkan, keduanya pun menjawab dengan perspektif yang punya warna dan rasa yang berbeda. Ibu memang terbaik , tetapi paling ku ingat sampai saat ini adalah perkataan Ayahku yaitu " Bapak juga pernah melakukan kesalahan mendapat nilai E hanya karena masalah perbedaan kertas saat pengumpulan tugas. Kesalahan adalah pembelajaran, kamu salah jika tidak mau belajar, tidak akan ada perubahan jika kamu tak berbuat apa apa, kamu pasti bisa mas, kebisaanmu akan merubah segalanya, jika kamu ingin menjadi harapan ikuti kenyataan dan baiknya kamu mengubah yang seharusnya kamu ubah dan perbaiki apa yang sudah baik dan pertahankan jika kamu ingin menjaganya ". Itulah yang membuatku semakin bangga pada figur kuatnya seorang Ayah. 

            Ketika aku menjelajahi waktu dengan mengikis rasa malas yang tertanam dalam kesalahan yang lalu, tidak sengaja terbangunlah dari bunga tidur disaat embun muncul dikeheningan fajar. Betapa hebatnya pengorbanan seorang pemimpin bertanggung jawab akan keluarga, ya Ayahku. Sudah jam empat pagi dia berada di ruang tamu berambut klimis dan memakai perlengkapan kantor ditemani oleh Ibu yang mengenakan mukena. Mereka sholat berjama'ah sedangkan aku hanya mengamati dari kejauhan, hinanya aku. Setelah merapikan sajadah menjadi beberapa lipatan, kecupan kearah tengah bagian kening Ibuku adalah ucapan manis ketika Ayah akan pergi dari rumah menuju tempat pahlawan tanpa jasa mengajar.


           Angin tetap berhembus dan sesekali berhenti. Terhunus membisu bernafas dan seketika diam dan berhenti.Aku mulai tak melihat moment itu lagi. Semua berawal disaat wajah pucat pasi Ayah ketika pulang mengajar dan terlihat lemah. Tegaknya mulai tumbang saat ia mengatakan:"Bapak lelah, ayo kita sholat berjama'ah". Disanalah aku merinding memikirkan hal yang tidak-tidak. Dia kembali bersua "mas, tolong jadi imam ya, Bapak belum pernah lihat kamu jadi imam dirumah ini". Hati kecil sudah mulai meragukan kalimat penuh tanda tanya itu, seakan ingin bertanya kepadanya "Pak, bicara apa sih, kan aku masih punya Bapak , ya jadi Bapak imamnya" namun lisan yang terucap adalah " Iya, Pak ".

            Malam pun tersulap menjadi pagi kembali. Pada hari itu, aku mendapatkan jam di waktu yang cerah dan berseri. Tidak biasa, kegiatan jasmani dan rohani sudah dilakukan, aku sedikit sumringah dan merasa bahwa hari itu aku seperti terlahir kembali. Sambil tertawa lepas seketika hening saat Ayah masih terbaring didalam kamar dan melihatku dengan mata yang sendu. Perasaan pun menjadi
kalut dan sedikit kelam membiru, terharu jadinya dirasa. Perlahan lepas aku mendekatinya dan berpamitan untuk berangkat menuntut ilmu dan meminta agar lebih banyak lagi pelajaran yang masuk kedalam otakku dan teruslah berbagi. Pada suatu ketika akupun pergi dan kembali ke tempat berteduh tercinta, iya sangat tercinta nyaman dan tentram, rumahku istanaku bagaimana dengan kalian? :) hehehe.

 


            Pelajaran hari itu menyenangkan, aku bergegas ingin bercerita tentang serunya pelajaran tadi pagi kepadanya. Sesampainya dirumah, banyak tetangga yang datang dan mendekatiku. Mereka mengatakan bahwa Ayahku dirawat di RS, sekarang sedang di UGD. Terkagetlah aku, seketika aku memegang kepala dan berteriak dalam hati "kenapa bisa jadi seperti ini?" tetangga pun pergi. Didalam rumah hanyalah aku sendiri dan memandang piagam penghargaan yang pernah didapatinya karena pengabdiannya puluhan tahun sebagai seorang guru yang selama ini diembani. 

            Ada secercah tulisan di meja yang seakan-akan memanggilku untuk membacanya. Tulisan itu berisikan pesan agar tidak pergi keluar dan tetap didalam rumah. Aku merasa tidak bisa apa apa ketika mereka disana karena dimakan rasa manja yang buas menghantui. Berminggu minggu aku pun dirumahu, bermalam mingguan dengan kesendirian dan rasa cemas sekali lagi yang mengujam otak ini.

            Kerinduanku akhirnya pecah, ketika aku diizinkan untuk datang dan bergantian dengan Ibuku yang pulang kerumah. Wajah pucat Ayah mulai pudar, melihatnya pun aku tidak tega karena peralatan rumah sakit yang seperti mengikatnya padahal mencoba memperbaiki kesehatannya. Disana aku merasa bahwa aku semakin dekat dan menjadi obat untuknya. Hal yang paling tak terlupakan adalah ketika menyuapinya, bercanda dengannya, dan terpenting ialah beliau mengajakku untuk sholat berjama'ah. Lagi lagi Ayah mengucapkan sesuatu, "Jangan pernah menangis kalau Bapak ga disini lagi, Bapak sayang kalian semua, jangan lupa sholat, tolong jadi imam buat adek adek nya, setiap pemimpin punya harapan dan kamu juga akan jadi harapan kita semua". Disitulah air mata dan air hujan jatuh diwaktu yang bersamaan. deras mengujur melewati atap rumah sakit, jatuh ke hulu dan air mata pun jatuh dari peradabannya di kelopak mata dan jatuh ke hati tempat menyimpan segala rasa, terlebih dari apapun, itu juga moment berharga yang pernah ku alami dengannya ku rasakan, ku lalui, ku nikmati dan ku tahu itu mungkin yang terakhir kali, menakjubkan Tuhan menciptakan orang hebat sepertinya, membuatku ada, dan semoga aku diciptakan bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk siapa saja, hehehe tersenyumlah Ayah.

            Dua minggu berlalu, Ayah sudah diperbolehkan dirawat dirumah. Keluarga mencari alternatif pengobatan selanjutnya dan itu lakukan secara rutin dan bertahap. Penyakitnya bertambah parah. Syaraf nya rusak tapi tak terlihat ia mengeluhkan rasa sakit yang sangat mendesak pada hidupnya (bertahan pak, bapak pasti bisa melewatinya), Ayah sudah tidak bisa bicara lagi dan separuh tubuhnya mati, yang ajaibnya masih sanggup mengucapkan doa doa kecil yang diiringi oleh kalimat yang menjadi satu ayat dan surat dalam Qur'an. Mungkin jika aku seperti itu, takkan bisa mengucapkan 1 kata sekalipun dan tetap sholat walau hanya di sebuah bangku dan sekedar kasur rumah sakit. Sesaat setelah hari hari baik berlalu, tertutuplah mata dan berhentilah nafasnya. Di saat seperti itulah aku harus tetap menahan rasa sedih karena dia berpesan kepadaku, tetap bertahan jangan macam macam pertahankan ibadahmu dimanapun dan kapanpun itu.
Walau dalam keadaan duka, lega rasa hati ini tetesan pun tak keluar sama sekali walau seakan ingin mengeluarkannya sesekali dan jatuh di tubuhnya yang masih terlihat kuat dan gagah kebal terselimuti. Takdir memisahkan kita Ayah tapi kenanganmu bersama kami tetap bersatu seiring berjalannya waktu. Ayah tak pernah berbicara tentang nilai akademik, tapi nilai agama yang diinginkannya tetap kokoh dan bisa menuntunku sampai aku terlihat tua seperti ini, beliau pernah berkata kepadaku "Bapak tidak pernah bertanya nilai kamu berapa, Bapak sudah percaya sama kamu, orangtua harus yakin sama anaknya, karena kejujuran kamu yang akan dipertanyakan nanti, ibadah selalu ya fi, kalau kamu selalu jujur dan berusaha tekun dalam melakukan sesuatu yang menurutmu menarik, kamu pasti merasakannya dan hidupmu lebih bernilai tentunya, gagal pasti ada didunia ini, kalau kamu tidak mau merasakan gagal yang berat lebih baik temani ibu menyapu masak dan bantu pekerjaan rumah lainnya, kalau belajar untuk tidak mengeluh lihatlah ibumu, kalau dia lelah tidak mungkin ada masakan enak di meja, itulah kekuatan keluarga" dan disaat itu ibuku tersenyum memandangku semakin penuh dan berharap semua akan jadi lebih baik :).

            Hari itu telah datang, aku dituntut untuk memandikannya dan melihat wajahnya untuk yang terakhir kali dikuburnya dan ciuman terakhir di keningnya, menguburinya dan menutup rumah terakhirnya dengan gumpalan tanah yang sudah diukur sebelumnya. Alhamdulillah aku tidak menangis sedikitpun (itulah pesan terakhirnya). Suara tahmid terdengar, dari muridnya kerabatnya hingga orang yang jauh berdatangan menyolatinya, mungkin itu penghormatan terakhir didunia. Itulah kejutan yang kudapatkan sebelum Ramadan. Tiga hari kemudian aku menjadi wali murid untuk mengambil rapor adik dan menjadi Ayah selanjutnya walau takkan seperti dirimu. Aku rindu kamu Pak Guru :)




setidaknya memerah-meronakan wajah mereka adalah kewajiban bagiku, bagi kita dan mungkin mereka hanya menganggapnya sebagai hak, tidak ingin dilebih-lebihkan tapi ingin melihat anaknya lebih baik dari yang diharapkan.
             
                                                                     

0 comments:




Share