Waktu yang terus berlalu, kejadian yang terekam dalam potret masa lalu, beribu keinginan terpacu jadi tujuan padu, impian yang selalu didambakan masih terpendam dalam lautan kalbu, seakan-akan menjadi misteri dan sorotan ilusi yang mengarahkannya pada suatu titik apakah kita harus berani menghadapi kehilangan ataupun takut dan terhimpit dalam kesedihan yang mendalam. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku akan sedikit bercerita tentang kehidupanku sendiri, dimana aku mau tidak mau harus menjadi sosok pemimpin (sebaliknya aku hanyalah seorang pemimpi yang masih tertidur dalam selimut kekanak-kanakan) yang belum saatnya memulai tetapi aku juga tidak akan mengakhirinya begitu saja. Kami hidup layaknya seperti "keluarga cemara" yang terlihat tentram, damai, gembira walaupun terkadang ada saja sedikit ketidakserasian yang menjadi bumbu penyedap kami dalam mengarungi kehidupan juga menyajikan hitam dan putih serta pahit dan manisnya rasa dalam mencicipi indahnya kebersamaan. Memang benar apa kata orang:" bahagia itu sederhana, ada disaat kita bersama keluarga. Dikala kita jauh, kita tidak dapat merasakan hal yang sama dan dikala kita dekat, bandingkanlah dengan kebahagiaan manapun. Maka kau akan merasakan kebahagiaan yang seutuhnya bahagia". Baiklah, aku akan menceritakan secarik peristiwa yang membuatku berbeda dari biasanya.
Ketika
aku menjelajahi waktu dengan mengikis rasa malas yang tertanam dalam kesalahan
yang lalu, tidak sengaja terbangunlah dari bunga tidur disaat embun muncul dikeheningan fajar. Betapa hebatnya
pengorbanan seorang pemimpin bertanggung jawab akan keluarga, ya Ayahku. Sudah
jam empat pagi dia berada di ruang tamu berambut klimis dan memakai
perlengkapan kantor ditemani oleh Ibu yang mengenakan mukena. Mereka sholat
berjama'ah sedangkan aku hanya mengamati dari kejauhan, hinanya aku. Setelah
merapikan sajadah menjadi beberapa lipatan, kecupan kearah tengah bagian kening
Ibuku adalah ucapan manis ketika Ayah akan pergi dari rumah menuju tempat
pahlawan tanpa jasa mengajar.
Malam
pun tersulap menjadi pagi kembali. Pada hari itu, aku mendapatkan jam di waktu yang
cerah dan berseri. Tidak biasa, kegiatan jasmani dan rohani sudah dilakukan,
aku sedikit sumringah dan merasa bahwa hari itu aku seperti terlahir kembali.
Sambil tertawa lepas seketika hening saat Ayah masih terbaring didalam kamar
dan melihatku dengan mata yang sendu. Perasaan pun menjadi
kalut dan sedikit kelam membiru, terharu jadinya dirasa. Perlahan lepas aku mendekatinya dan berpamitan untuk berangkat menuntut ilmu dan meminta agar lebih banyak lagi pelajaran yang masuk kedalam otakku dan teruslah berbagi. Pada suatu ketika akupun pergi dan kembali ke tempat berteduh tercinta, iya sangat tercinta nyaman dan tentram, rumahku istanaku bagaimana dengan kalian? :) hehehe.
kalut dan sedikit kelam membiru, terharu jadinya dirasa. Perlahan lepas aku mendekatinya dan berpamitan untuk berangkat menuntut ilmu dan meminta agar lebih banyak lagi pelajaran yang masuk kedalam otakku dan teruslah berbagi. Pada suatu ketika akupun pergi dan kembali ke tempat berteduh tercinta, iya sangat tercinta nyaman dan tentram, rumahku istanaku bagaimana dengan kalian? :) hehehe.
Pelajaran
hari itu menyenangkan, aku bergegas ingin bercerita tentang serunya pelajaran
tadi pagi kepadanya. Sesampainya dirumah, banyak tetangga yang datang dan
mendekatiku. Mereka mengatakan bahwa Ayahku dirawat di RS, sekarang sedang di
UGD. Terkagetlah aku, seketika aku memegang kepala dan berteriak dalam hati
"kenapa bisa jadi seperti ini?" tetangga pun pergi. Didalam rumah
hanyalah aku sendiri dan memandang piagam penghargaan yang pernah didapatinya
karena pengabdiannya puluhan tahun sebagai seorang guru yang selama ini
diembani.
Ada
secercah tulisan di meja yang seakan-akan memanggilku untuk membacanya. Tulisan
itu berisikan pesan agar tidak pergi keluar dan tetap didalam rumah. Aku merasa
tidak bisa apa apa ketika mereka disana karena dimakan rasa manja yang buas
menghantui. Berminggu minggu aku pun dirumahu, bermalam mingguan dengan
kesendirian dan rasa cemas sekali lagi yang mengujam otak ini.
Walau
dalam keadaan duka, lega rasa hati ini tetesan pun tak keluar sama
sekali walau seakan ingin mengeluarkannya sesekali dan jatuh di tubuhnya
yang masih terlihat kuat dan gagah kebal terselimuti. Takdir memisahkan
kita Ayah tapi kenanganmu bersama kami tetap bersatu seiring
berjalannya waktu. Ayah tak pernah berbicara tentang nilai akademik,
tapi nilai agama yang diinginkannya tetap kokoh dan bisa menuntunku
sampai aku terlihat tua seperti ini, beliau pernah berkata kepadaku
"Bapak tidak pernah bertanya nilai kamu berapa, Bapak sudah percaya sama
kamu, orangtua harus yakin sama anaknya, karena kejujuran kamu yang
akan dipertanyakan nanti, ibadah selalu ya fi, kalau kamu selalu jujur
dan berusaha tekun dalam melakukan sesuatu yang menurutmu menarik, kamu
pasti merasakannya dan hidupmu lebih bernilai tentunya, gagal pasti ada
didunia ini, kalau kamu tidak mau merasakan gagal yang berat lebih baik
temani ibu menyapu masak dan bantu pekerjaan rumah lainnya, kalau
belajar untuk tidak mengeluh lihatlah ibumu, kalau dia lelah tidak
mungkin ada masakan enak di meja, itulah kekuatan keluarga" dan disaat
itu ibuku tersenyum memandangku semakin penuh dan berharap semua akan
jadi lebih baik :).
Hari
itu telah datang, aku dituntut untuk memandikannya dan melihat wajahnya untuk
yang terakhir kali dikuburnya dan ciuman terakhir di keningnya, menguburinya
dan menutup rumah terakhirnya dengan gumpalan tanah yang sudah diukur
sebelumnya. Alhamdulillah aku tidak menangis sedikitpun (itulah pesan
terakhirnya). Suara tahmid terdengar, dari muridnya kerabatnya hingga orang
yang jauh berdatangan menyolatinya, mungkin itu penghormatan terakhir didunia.
Itulah kejutan yang kudapatkan sebelum Ramadan. Tiga hari kemudian aku menjadi wali
murid untuk mengambil rapor adik dan menjadi Ayah selanjutnya walau takkan seperti
dirimu. Aku rindu kamu Pak Guru :)
setidaknya
memerah-meronakan wajah mereka adalah kewajiban bagiku, bagi kita dan mungkin mereka hanya
menganggapnya sebagai hak, tidak ingin dilebih-lebihkan tapi ingin melihat
anaknya lebih baik dari yang diharapkan.
Labels:
for my future





0 comments:
Posting Komentar