Sekarang
sudah tiga bulan lebih, aku dan keluargaku tak melihat dia. Dia yang telah
membuatku ada, kini tak terlihat lagi. Dia tak menghilang dan pergi menjauh,
melainkan dia hanya ingin istirahat lebih lama dari rasa lelah yang pernah ia rasakan demi kami, demi keluarga. Menyenangkan bila dia bersama kami, terasa
hambar dan tak lengkap apabila obrolan di sore hari yang menarik seperti biasa
tanpanya. Dia yang memulai tema dan mengakhiri dengan kesimpulan termanisnya.
Mungkin di tempat nan indah disana dia akan baik-baik saja bahkan lebih
merasakan keindahan yang sebenarnya indah.
Tiada
hari tanpa pesannya, baik pesan singkat yang terdiri dari beberapa kata,
kumpulan kalimat lengkap yang sudah tertata rapi oleh wawasan luasnya, dan hal
baru yang muncul didalam perjalanan hidupnya terus diucapkan tanpa mengulang
cerita lama yang sama sebelumnya. Kebanggaan tersendiri apabila suaranya
menggema dalam telingaku yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Rasa rindu
datang ketika kesendirian menyelimuti dinginnya malamku yang dipenuhi kecemasan
terhadapnya, sekali lagi aku yakin dia akan baik-baik saja dan mungkin bahagia
yang dirasakan akan kekal selamanya. Karena dialah pelengkap yang dapat
menghangatkan suasana.
Teringat
kembali saat capuchino mewarnai hari
kami dengan rasa yang cukup berkelas, itulah yang membuatnya sebagai minuman
favorit di sore hari yang sangat pas dan takkan terelakkan lagi jika kami
bersama-sama sepakat menambah dua kali. Suara “sruuuput” yang terdengar begitu
mengasyikan jelas menjadi ritual rutin dalam awal percakapan kita. Aku rindu
suara itu, terakhir terdengar saat dia memakai baju yang sedang saat ini
kukenakan dengan senyuman yang penuh dengan harapan besar kepadaku, sebagai
sosok yang menurutnya lebih tepat memimpin setelahnya, walaupun aku masih
bermain didalam rasa malas dan terlelap dalam selimut ketidakdewasaan (maafkan
aku tapi akan kucoba).
Menatap
manis peninggalannya di sisi rumah dengan jarak yang cukup berdekatan. Karya
uniknya tak bisa memungkiri keberadaan seorang seniman yang sudah tertidur
pulas disana dalam keabadian. Perlahan pelan ku sentuh salah satu kejahilan
tangannya, sebuah kayu yang dilapisi biji buah-buahan, gumpalan kertas bekas
yang sedikit hitam karena banyak coretan, dilumuri perekat pilihan, juga warna
yang mencerahkan tekstur dan menguatkan coraknya, menakjubkan. Bentuknya tak
biasa dan menurutku sangat luar biasa, karena aku tahu dia punya jutaan rasa
yang akan ditumpahkan kemana saja, mungkin suatu hari nanti aku pun ingin
meninggalkan cerita indah kepada keluarga, tetangga, saudara, sahabat, teman
dan tak menutup kemungkinan seorang yang sangat kucintai, begitu pula dia
menjaganya sepenuh hati dengan ruang kosong yang pada saat itu ku tempati, tapi itu
nanti. Gelar Hajjah-lah lebih ingin kuberi pada Ibu yang paling tepat sejak kecil hingga berdiri dari merangkak seiring waktu berputar mengejar ataupun terjekar dan dikejar, betul kata pepatah Dad Son's hero Daughter's First Love, Coz Mom is Daughter's Hero Son's First Love :) (cont'd).
Labels:
for my future,
yang tenang disana
0 comments:
Posting Komentar